Bagiku kau bukanlah bunga
Dan tidak juga seperti bintang
Apalagi bulan purnama yang temaram
Terlebih lagi bukan permata cintaku
Kau memang bukan matahari
Yang kutunggu dikala malam tiba
Bukan pula pelangi yang indah
Setelah hujan turun di pegunungan
Kau memang tak ku harapkan
Dan tak ku nanti kedatanganmu
Tak ku inginkan merah bibirmu
Juga pesona rambut halusmu
Kau seperti singa betina liar
Yang entah bagaimana aku mandapatkanmu
Kaupun seperti anjing liar yang haus cinta
Dan tak sadar kuberikan hasrat pertamaku
Seperti hutan gundul kau ku dapatkan
Dan ku tebang pohon yang sisa itu
Bagai kapal laut yang akan tenggelam
Kubiarkan berat tubuhku membebanimu
Maaf! kuminta dari mu kini
Cinta! tidak ku dapat dari mu
Sayang! ku berikan padanya
Dan kecupan ini ku serahkan pada bungaku.
(November 2004)
Cinta tidak mengenal perbedaan apapun namun cinta yang tidak menghasilkan sesuatu berarti bukan cinta. Motto: Love is fighting for future.... Slogan: Thanks love
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Minggu, 18 Juli 2010
Minggu, 28 Februari 2010
MAHLUK-MAHLUK PEMARAH
Ada mahluk berjubah putih berbisik kepada matahari,
‘Tuanku marah’,
Karena kemunafiakan serigala di dunia…
Ada malaikat bersayap lebar berbicara kepada bulan,
‘Tuanku cemburu’,
Karena bunga bangkai tidak tahu berterima kasih…
Ada peri bermahkota indah berkata kepada bintang,
‘Tuanku mengambil nyawa’,
Karena cinta kepada bunga…
Ada singa merah hitam bertanduk berucap kepada venus,
‘Tuanku iblis membunuh’,
Hanya dengan sebuah getaran saja…
Ada burung berkicau dimalam hari,
‘Tuanku rajawali gusar’,
Karena gagak hitam sangat rakus memakan mutiara.
Ada beruang bercerita pada kepada bunga,
‘Tuanku singa geram’,
Karena anjing hutan merampas makanan sang kancil.
Ada hiu bersuara kepada kuda laut,
‘Tuanku paus sangat kesal’,
Karena lumba-lumba tidak patuh kepada samudera.
Ada peri kuburan berbincang pada kunang-kunang,
‘Tuanku setan membasmi nabi-nabi’,
Karena para rasul tak lagi menyembah Tuhan.
(April 2005)
Senin, 01 Februari 2010
Puisi Untuk Negeri
Di negeri yang penuh dengan para pejuang gagah berani
Di tanah yang subur makmur nan indah tak terperi
Aku melihat keangkuhan batang gandum berbulu tajam
Dan menyaksikan tumbuhnya calon-calon tunas keji
Keramaian seharusnya menjadi kegembiraan hati
Kesendirian seharusnya menjadi perenungan hidup
Namun kegaduhanlah menjadi kata sepakat negeri
Dan kebisinganlah menjadi pengesahan martabat
Hilang.... semua orang berani dan tak sempat jadi pahlawan
Musnah.... orang-orang perkasa dan tak sempat jadi panutan
Binasa.... para penentang kejahatan dan tak sempat jadi teladan
Raib.... para penasehat raja negeri dan tak sempat lambaikan tangan
Terdiam sesaat dalam renungan penghayal negeri
Terus berpikir dalam angan kepala menteri
Membisu sambil mengeretakkan geligi tajam
Tulikan telinga mendengar lengkingan batin
Ingat, aku akan mengajarkan pada pemberontak
Camkan, aku akan mengarahkan para penghasut
Dengar, aku akan mendidik para petinju nan kejam
Lihat, aku akan bergerak bersama para pemukul kejahatan
Akan ku hancurkan semua pembuat kemiskinan negeri
Akan ku luluhlantakan semua bangunan hasil percabulan
Akan ku pangkas setiap penguasa pemerkosa kekayaan alam
Akan ku gantung di alun-alun negeri setiap penghianat revolusi
Rabu, 27 Januari 2010
BERAKHIRNYA CINTA PETUALANG
Seolah menusuk jantung pengelana
mencabik paru-paru dengan cakar tajam
menutup mata dengan kuku-kuku panjang
Aku terdiam berpikir untuk mengalah
Aku tertunduk mengendurkan urat syaraf
Menghela nafas meredakan amarah
Menutup mata menghindar sayatan kata
Ucapan mantra keluar dari mulut petenung
Bibir tipis berkomat-kamit dari sang peramal
Lidah terjulur panjang dari pemangsa darah
Jarum suntik menghisap lendir-lendir nyawa
Dia sangat mengejutkan hayalan indahku
Mengagetkan segala isi lamunan nadiku
Memecahkan butiran keringat lelahku
Dan menggetarkan kakunya jemariku
Sepertinya sudah habis harapan tawa untuknya
Semua kegembiraan dahulu seolah melayang perlahan
Kecantikan belibis seakan melenyap tak terkirakan
Kelestarian bougenvile layu tak tertahankan lagi
Hatiku berteriak untuk menjauh dari auman singa betina
Dan menunggu ucapan terakhirnya untuk kutinggalkan
Aku sedih namun sangat bergembira bercampur kenangan
Karena akhirnya dia memilih untuk melepas sang petualang
(20 Januari 2007)
Sabtu, 23 Januari 2010
My X
AKU DAN DIA
Dia kadang membentak keras namun menangis dibahuku
Dia suka mengusir kasar namun memegang lembut jemariku
Dia sering cemburu pada awan namun masih mengecup pundakku
Dia selalu berteriak amarah namun masih bersandar didadaku
Ketika merah padam wajahku dia memeluk pinggangku lembut
Ketika hatiku panas membara dia mengelus punggungku manja
Ketika cemburu buta melandaku dia mencium hangat bibirku mesra
Ketika darahku naik sampai ubun-ubun dia berpuisi merayuku
Ragu aku tuk meninggalkan si bunga peri cantik ini
Bimbang aku tuk melepas indahnya kelopak mawar ini
Bingung jiwaku tatkala jemarinya menyentuh leherku
Abu-abu sudah batinku ketika dia mengedipkan mata
Padahal aku akan melemparnya bersama ego-nya
Sebenarnya aku akan berlari menghidar amarahnya
Sesungguhnya aku sudah bersiap jika ditinggalkannya
Rencananya aku sudah bersiap jika dia menduakan cinta
Memang aku benci setiap kata-kata kasar tak mendidik
Akupun tak suka pada sikap ledakan amarah kosong
Aku tak suka saat kesombongan dipamer-pamerkan
Aku tak menghargainya saat mengecilkan arti kasih
Apakah yang harus ku lakukan.....?????
Biar waktu menjawab dengan berwibawa
Apakah yang akan ku kerjakan.....?????
Hanya sejarah yang dapat membukakan misteri cintaku
(25 Januari 2007)
Jumat, 22 Januari 2010
Mati untuk Revolusi
MATI UNTUK REVOLUSI
Aku adalah anak bangsa yang dibesarkan penguasa,
Aku juga anak tirani yang ditumbuhkan pak tani,
Tapi…. Dimanakah kini ku berada ???
Penguasa… atau … pak tani ??
Engkau adalah anak kapitalis yang dimodalkan dengan sinis,
Kau juga anak buruh yang disusui dengan peluh,
Tapi…. Dimanakah kini kau berpihak ???
Kapitalis… atau… buruh ??
Dan….
Dia adalah pemberontak yang dibesarkan tanpa otak,
Dia juga anak penghasut yang berjalan tanpa kasut,
Tapi….
Kini dia telah menjadi raja, pahlawan rakyat miskin,
Dan dia akan mati untuk kemenangan…
REVOLUSI….
(November 2003)
Kamis, 21 Januari 2010
Puisi Negeri Bencana
WAHAI PENGUASA ALAM
Terhentak jiwaku dalam lamunan…
Terkejut rohku dalam pandangan…
Termenung aku sesaat…
Hancur hatiku seketika…
Nyawaku melayang-layang rasanya
Pikiranku menerawang di langit
Tubuhku serasa lumpuh
Dan dadaku begitu sesak
Kemarau dan hujan merupakan anugerah
Tapi… akhirnya membuat bencana
Angin dan ombak adalah pemberian
Tapi… akhirnya menjadi tragedi
Ada banjir dan erosi di gunung lembah
Kekeringan dan kelaparan di padang belantara
Ada gempa di sudut-sudut desa kota
Tsunami di setiap bibir-bibir pantai
Tragedi terjadi kawan….
Bencana meluas sobat….
Berduka dan menangislah wahai negeriku
Bersedih memang sudah waktunya
Banyak nyawa berteriak dengan lantang
Dan jasad-jasad membusuk tak terurus
Setiap jiwa meregang dengan pasrah
Dan sorga-neraka membukakan pintu
Wahai malaikat pencabut nyawa…
Wahai setan-setan penggoda…
Wahai dewa-dewiku pengasih…
Wahai penguasa alam semesta…
Wahai Tuhan yang perkasa…
Engkau memberikan pengajaran yang berat
Engkau memberikan peringatan yang keras
Engkau memberikan nasihat yang sukar dimengerti
Kami tahu ini belum berakhir
Kami tahu ini manjadi awal kembali
Kami tahu ada yang tersembunyi
Kami tahu ada yang indah dibalik semua
Memang….
Harapan dan cita-cita akan kami dapatkan
Masa depan akan kami raih
Harta benda pasti kembali
Saudara-saudara baru akan berdatangan
Tapi…
Inilah permintaan kami
Inilah kemauan kami
Inilah keinginan kami
Biarlah tinju-Mu mendidik kami
Biarlah tangan-Mu membelai kami
Biarlah kasih-Mu menghajar dan memeluk kami.
(Bekasi, 09 January 2005)
Langganan:
Postingan (Atom)